Nyepi euy...

Kata teman saya, seorang dokter di bali, kalau hari raya nyepi seperti hari ini pasti di seluruh bali seakan tidak ada aktivitas. Pokoknya nyepi=sepi, katanya. Iseng-iseng saya searching di wikipedia, apaan sih nyepi itu? Dan ini yang saya temukan.

“Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan / kalender Saka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktifitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit.
Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Buwana Alit (alam manusia / microcosmos) dan Buwana Agung/macrocosmos (alam semesta). “ (http://id.wikipedia.org/wiki/Nyepi)

Saya sedikit terharu membaca tujuan utamanya, menyucikan dunia, sesuatu yang “wow” buat saya. Berarti seperti tujuan idul fitri dan kelahiran isa almasih?
“bukan, bro!!! jangan disamakan!!”, kata teman saya saat saya iseng mengajukan pendapat saya ini padanya.
“eh, kenapa?”
“ soalnya beda! Pokoknya beda! Kan keyakinannya beda? Tuhannya beda!”
“ iya, tapi bukannya manusianya sama?”

Saya tuh suka ngga mudheng, ga ngerti, kenapa sih teman saya ngamuk sampai segitunya. Padahal kan saya cuma bilang kalau tujuannya “seperti” lho, saya ngga mengatakan kalau sama. Sama ngga mudhengnya seperti saat teman saya ini mengomentari aksi pemukulan FPI dengan kata “kok gitu sih...”, lalu mengatakan “sialan! Brengsek!” saat ada temannya yang dipukuli sama anak lain dari kompleks sebelah yang rata-rata penghuninya berbeda keyakinan dengannya. Banyak hal memang yang tidak saya mengerti tentang pikiran teman saya ini.
“kok gitu bro?”, iseng saya coba tanyakan.
“ ngga tahu. Reflek tuh..”, jawabnya.

Nah, dia aja ngga tahu tuh ternyata.. Beneran reflek kali yak?

Tapi bicara reflek, saya jadi ingat kata-kata seorang komikus amerika, scott mc loud. (itu loh, yang ngarang re inventing comic). Dia bilang kalau dunia ini seperti sebuah barisan orang-orang yang menuju ke suatu tempat, komikus yang baik..menemukan ide dengan keluar sejenak dari barisan dan melihat barisan itu, lalu melihat dirinya sendiri.
Ngerti?
Ngga? Waduh..

Maksudnya, kadang kita suka ngga sadar kalau diri kita itu sudah terprogram, oleh lingkungan, oleh keyakinan, oleh berbagai pengalaman, oleh berbagai hal lain yang saya sudah mulai bingung harus menyebutkan apalagi. Itulah yang menciptakan “reflek” semacam yang dialami teman saya tadi.
“Gue kok benci banget ya sama mereka...”
“ kenapa?”
“ entah sih..kayaknya karena...”

Kita penuh dengan “entah sih...” dan “kayaknya...”. Kita melakukan banyak hal berdasar apa yang kita “yakini”, tapi seberapa jauh sih kita yakin akan hal tersebut?
Di Indonesia, eksekusi mati, dilakukan oleh satu regu penembak jitu yang terdiri dari sekita lima sampai sepuluh orang (jumlah saya ngga tahu pasti). Dan dari sekian penembak, hanya satu yang senapannya benar-benar terisi peluru. Saya tanya, kenapa sih dibikin begitu?

Yak! Benar.. dibikin seperti itu agar ga ada yang benar-benar tahu tangan siapa sih yang udah membunuh si terpidana itu. Perasaan bersalah karena sudah membunuh atau menyakiti seseorang, itu sangat merusak mental saudara. Sekarang saya tanya, kenapa merusak mental? Hayoo..

Benar lagi. Rasa menyesal. Lalu kenapa anda bisa menyesal kalau anda benar-benar yakin kalau anda melakukan sesuatu yang benar?

--karena kita ga bisa menipu diri sendiri terus-terusan?
Salah! Kita bisa menipu diri terus-terusan kok, selama diri kita tidak tersadar.

Itulah yang dibilang Mc. Loud, “keluar dari barisan, melihat barisan itu, lalu melihat diri sendiri”. Momen-momen kita menjadi benar-benar objektif dan mendengarkan hati nurani, salah satu indikator purba yang ditinggalkan Tuhan agar kita ga selalu bertanya mulu, “kalau gini benar ngga Tuhan?”.

Seperti para veteran perang, yang bunuh diri karena merasa bersalah, atau yang jatuh pada narkoba untuk membuat diri mereka “ngga sadar” saat mereka tersadar. Hati nurani itu kejam saudara, dia hanya akan mengatakan kejujuran pada diri anda, kadang memang kata-kata yang paling kejam terasa adalah kata-kata yang benar-benar jujur kan? Dan sekali dia bebas dari kurungan, dia bisa ngoceh tak henti-hentinya, seakan sudah dihakimi sebelum sampai akhirat saja rasanya. (ini pengalaman pribadi loh.. :) )

H, sudah ngelanturnya. Kembali ke topik awal. Tentang nyepi, rasanya saya suka ide tentang menyendiri sejenak dan menghentika aktivitas, untuk menyucikan dunia dan alam semesta ini. Kan memang di dunia yang terlalu bising ini, agak susah memunculkan kesadaran-kesadaran yang saya bicarakan panjang dan lebar di atas tadi. Kita terlalu sibuk, atau menyibukkan diri biar ga sempat dihakimi sama hati nurani.

Mbok ya sekali-sekali bagus begitu...diam sejenak dan biarkan hati nurani ini bicara apa saja. Biar kita tahu kalau kita salah, biar kita tahu kalau kita udah melakukan berbagai hal buruk yang ngga mau kita sadari, biar kita sadar kalau kita ini manusia, biar kita sadar kalau untuk segala hal buruk yang kita lakukan, kita sendiri yang salah sepenuhnya..kan manusia punya plihan. Kita selalu bisa memilih mau membenci atau mencintai seseorang, ngga peduli apa yang sudah dilakukannya sama kita, kita bisa milih mau bersikap apa saat diri kita dilukai, kita bisa memilih mau berpikir seperti apa terhadap orang yang berbeda dengan kita. Kita selalu bisa memilih. Apapun.

Menyucikan hati sendiri, pikiran sendiri, lalu menyucikan diri sendiri. Dan mengenai menyucikan semesta, saya tidak menganggap itu sesuatu yang lebay kok.. emangnya apa sih yang ngga suci di semesta ini selain pikiran dan perbuatan manusia? Sebuah tempat disebut suci, karena orang-orang di dalamnya suci, kan?

Pikiran yang suci, membuat perbuatan-perbuatan yang suci, lalu perbuatan dan pikiran itu membuat pemiliknya menjadi suci. Orang-orang yang suci membuat dunia yang suci, dunia yang suci... ehm..lalu semesta?

Pokoknya, selamat hari nyepi bagi yang merayakan...
Makassar, 5 Maret 2011.

0 komentar:

Posting Komentar

About Me

Foto saya
hanya seorang pecinta sandal swallow warna hijau, yang gue pakai jalan-jalan ngga jelas kemana-mana mulai dari mall sampai restoran besar (sempat ngga boleh masuk, sialan!).

Pengikut Jejak

Penunjuk Sandal

Sandal ku Laku :)

Sandal Jepit Ku

Your pictures and fotos in a slideshow on MySpace, eBay, Facebook or your website!view all pictures of this slideshow

Absen Sandal


ShoutMix chat widget
ADS
ADS
ADS
ADS
Diberdayakan oleh Blogger.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "