baik itu, ngga harus ganteng

Hari ini saya semakin percaya kalau antara muka dan hati bukanlah hal yang sinkron kadang-kadang.

Teman sekantor saya, anak aceh. Mungkin mendengar kata aceh beberapa dari kita akan berpikir bahwa teman saya ini adalah anak yang alim, berjenggot dan sukanya memakai baju koko, saya dulu berpikir seperti itu. Saya sempat shock mendengar bahwa teman baru yang akan penempatan di makassar bersama saya adalah orang aceh. Sempat terlintas “wah, sekantor sama kyai nih…”, dan inilah yang terjadi, bahwa sangat tidak baik menilai seseorang terlalu awal karena kadang yang akan kita hadapi adalah kenyataan sebaliknya.

Pertama ketemu dia, wuih..berjenggot, berbulu, tapi kok pakai kaos ketat sama celana pendek? Eh, lho..kok manggilnya “gimana bro…siapa nama lu nih?”

Heisyah! Ngomongnya pakai “lu” dan “gue”, dan hebatnya lagi, dia bawa kartu remi!

“Gimana bro? mau main ngga nih..mumpung senggang..mumpung senggang…”, dan saya takjub dengan kenyataan bahwa kharakter orang aceh ini jauh dari bayangan saya. Di luar bahwa seharusnya dia alim karena bagaimanapun juga dia mantan juara tiga hapalan kitab se provinsi aceh, ternyata dia suka juga minum bir, malah kadang-kadang kalau lagi senggang sekali kami sempatkan minum bareng di pinggiran pantai sambil ngliatin cewek-cewek makassar yang modis dan seksi bersliweran bagai nyamuk.

Teman saya ini, badannya agak kekar kayak tukang bangunan, meski sedikit gendut sih semenjak di makassar. Dengan tambahan jenggot sama cambangnya yang menjulur dengan liarnya, dia jadi mirip preman pasar. Ngomongnya juga seringnya keras dan nyolot, cuek, pokoknya sering ngga enak di dengar deh. Penilaian saya setelah setahun berteman dengannya adalah, dia keras dan cuek.

Dan hari ini, saya sedikit ragu sama penilaian saya sendiri.

Tepat sore ini jam lima sore setelah absen kantor, tiba-tiba saja muncul ibu-ibu berpakaian formal yang menemui kami berdua dengan pakaian formal kantor. Karena saya masih ada urusan, saya permisi pergi ke ruangan saya di lantai dua. Lima belas menit kemudia saya lihat teman saya masih mendengarkan ibu-ibu itu bercerita sesuatu,entah apa dan masih berlanjut sampai setengah jam berlalu, dia naik ke atas meninggalkan ibu-ibu itu yang anehnya masih tetap dalam posisi bercerita seakan ngga sadar teman saya sudah naik ke lantai dua.

“lho…kenapa tu orang? aneh banget? kok malah ngomong sendiri di bawah?”

” ngga sadar ya lu?”

” apaan?”

” sinting tu orang bro…udah sering kok kesini.”

“hyahh! masak? lalu ngapain lu tadi dengarin sok serius gitu? hahaha…”

” ekspresinya itu lho, gue ga tega mau nyuekin.”

Kata mbak saya, orang yang benar-benar baik masih akan berbuat baik bahkan pada orang gila sekalipun. Dulu saya kira ini cuma kiasan saja, tapi ah..bisa terjadi beneran juga. Dengan ini saya sadar bahwa yang namanya orang baik ngga harus selalu tampil dalam wujud orang yang perhatian, yang bicaranya manis, yang sikapnya lemah lembut. Setidaknya, ngga semua orang baik tampil dalam wujud seperti itu.

Hari ini saya melihat seseorang dengan baju hitam, dengan nada bicara kasar, sikap cuek dan wajah angker, nyebelin, suka minum bir, yang mau mendengarkan waktunya untuk mendengarkan curhat orang gila selama setengah jam.

Dan bagi anda yang bilang kalau mungkin dia cuma iseng,

Saya yakinkan anda bahwa saya rasa tidak ada orang iseng yang akan mengatakan “gue ga tega nyuekin dia” dengan ekspresi setulus itu.

Makassar, 8-3-2011

0 komentar:

Posting Komentar

About Me

Foto saya
hanya seorang pecinta sandal swallow warna hijau, yang gue pakai jalan-jalan ngga jelas kemana-mana mulai dari mall sampai restoran besar (sempat ngga boleh masuk, sialan!).

Pengikut Jejak

Penunjuk Sandal

Sandal ku Laku :)

Sandal Jepit Ku

Your pictures and fotos in a slideshow on MySpace, eBay, Facebook or your website!view all pictures of this slideshow

Absen Sandal


ShoutMix chat widget
ADS
ADS
ADS
ADS
Diberdayakan oleh Blogger.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "