Kali ini saya kena batunya.
Seperti biasanya saat perut saya mules di kantor, saya menuju tempat favorit saya untuk melampiaskan beberapa hal yang mengganjal dalam hidup..halah, lebay, yang mengganjal dalam perut maksud saya. Saya menuju ke lantai dua gedung sebelah yang biasanya jam-jam segini sudah kosong dan ngga ada aktivitas apa-apa.
Lagi asyik-asyiknya jongkok nih, tiba-tiba ada suara, "kriett.." (pintu dibuka). Mampus saya!! Masalahnya bukan karena ada yang masuk ke toilet juga, tapi masalahnya toilet yang saya pakai itu adalah toilet cewek. Mampus...mana saya masih belum punya askes lagi! Gimana nanti kalau saya digebukin ibu-ibu lalu harus dirawat di rumah sakit?!
Untunglah ngga seberapa lama, entah siapa yang masuk tadi keluar lagi. "Kriett..klik!", pintu ditutup dan saya selamat. Pelajaran moral kali ini adalah : saat anda dalam bahaya, dan tidak bisa melakukan apapun, diam saja dan sabarlah. Mungkin bahaya itu akan berlalu dengan sendirinya.
Tapi walaupun saya baru selamat dari bahaya digebukin ibu-ibu, saya masih ngga ngerasa salah kok. Kan gedungnya biasanya kosong dan ga ada kegiatan apa-apa disana, lagian juga toilet cowok di sebelah sedang rusak. Lagian kan manusiawi sekali, kalau saya yang orang baik-baik ini, yang biasanya jarang ngelanggar aturan, sekali-sekali pengen nakal.
Lha nakal kan sebenarnya salah satu kebutuhan dasar manusia juga. Semua orang, biar se alim apapun menurut saya sih pasti pernah terlintas ide-ide untuk berbuat sedikit "menyimpang" dari peraturan, sedikit "jahat", sedikit "usil". Di dunia anak-anak "gaol" sih ini disebut pikiran iseng.
Mungkin sih pikiran iseng, adalah salah satu warisan genetik dari nenek moyang kita. Jaman dulu kan ga ada aturan tuh ya, apalagi yang masa-masa purba, nenek moyang kita hidup dengan bebasnya. Kayak di film-film tuh, yang namanya manusia purba kan suka-suka aja hidupnya, mau ga pake baju kek, mau mukulin orang tanpa alasan kek, mau nari-nari ga jelas kek. Benar-benar pola hidup, "suka-suka gue".
Tapi jaman berkembang, manusia mulai semakin matang pemikirannya dengan berbagai konsep filsafat, moral, etika, agama. Kehidupan semakin mengalami "enlightment", keteraturan, ketertiban, kebijaksanaan, ilmu pengetahuan, norma-norma, yang semuanya baik..tentunya..
Tapi ada sisi manusia yang terpenjara dengan semua kemajuan peradaban itu, sisi purbanya. Sisi diri yang hidup bebas dan "semau gue aja", tinggalan nenek moyang di masa purba itulah yang kadang-kadang mengetuk-ngetuk hati, mendobrak-dobrak jiwa, atau hanya muncul dalam getaran halus di pikiran, "pengen iseng...pengen iseng...pengen iseng....".
Makanya ada orang yang jadi preman, soalnya mungkin gen purbanya jauh lebih kuat daripada nilai-nilai moral yang dipegangnya.
Tapi jangan salah bung, yang saya bilang pikiran iseng itu beda jauh sama pikiran jahat. Iseng itu ngga jahat. Orang-orang alim yang ngga punya pikiran jahat juga masih bisa punya pikiran iseng, hanya saja mereka mencari-cari cara untuk berbuat iseng yang ngga menyalahi moral, etika, agama, dan semua pegangan yang dimilikinya.
Makanya banyak cerita tentang sufi, yang iseng banget kan? Soalnya namanya aja sufi, salah satu cara memahami Tuhan lewat cara kreatif. Iseng itu dekat dengan kreatifitas, kreatifitas dekat dengan kejeniusan, kejeniusan dekat dengan kegilaan. Yah, gitu dah..
Dan dalam diri saya, dobrakan-dobrakan itu muncul setiap kali saya kebelet ke toilet. Setiap saat saya liat toilet cewek yang nganggur, ga ada yang makai di gedung sebelah, muncul di pikiran, "hihihi...gimana ya klo boker disana aja?? kan ga ada orang juga nih..". Waduh, sisi purba saya anarkis juga isengnya ternyata.
Yah, begitulah..dengan meng-kambing hitamkan gen nenek moyang lah saya bisa bilang kalau "ga salah juga lah..kan iseng, lagian ga ada yang makai tu toilet(biasanya)". Saya ngga ngerasa salah, tapi kapok. Daripada lain kali digebukin ibu-ibu kaget beneran.
Yah meskipun iseng ngga salah, tapi sebaiknya jangan berbuat iseng yang membahayakan nyawa kan.. Kalau nggebuknya pakai sepatu sih gapapa, tapi kalau pakai linggis? Nyawa saya bisa terancam juga kan..
jadi ingat iklan yang, "mbak..punya linggis? kalau nama punya kan...". Ah, sudahlah.
Lain kali, sebaiknya saya cari kesempatan iseng yang lebih aman. Tentunya yang ngga terlalu menyalahi moral dan yang palig penting, hati nurani saya.
Gimana lagi? Iseng itu kebutuhan hidup juga kan... Udah bawaan gen sih!
Selasa, 22 Februari 2011 |
0
komentar




0 komentar:
Posting Komentar