Hari ini saya ngantuk sekali. Kenapa? Pengen tahu alasannya?
Lho..ngga? Ya kalau ngga, jangan baca, saya kan emang lagi pengen curhat nih bung.. PNS juga manusia, bisa sakit, bisa curhat, bisa njengkelin, bisa aja deh pokoknya. Makanya saya kadang jengkel kalau menghadapi orang-orang yang menganggap kalau PNS itu adalah orang yang digaji negara, abdi masyarakat, jadi harus selalu bisa tampil prima dan optimal.
Padahal hari ini saya lagi bete dan ngantuk, eh kok daripagi disuruh kerja mulu. "PNS ga boleh terpengaruh mood, namanya bekerja untuk negara harus dengan segenap pengabdian..", kata teman saya. Itu namanya profesionalisme dan integritas.
Huah, mbok kira gue sapi! Pengabdian mulu, ngasih susu, mbajak sawah, narik gerobak, nanti udah tua dan ga bisa kerja lagi lalu dijadiin soto daging. PNS juga manusia bung.. Kalau lagi bete, ngantuk, capek, itu pengennya istirahat, berdiam diri, lalu ngapain lah selain kerja, minimal sebentar. Entahlah, sebenarnya saya ngantuk banget hari ini cuma gara-gara masalah sepele. Cuma masalah sms.
Apa?
Ya. Anda benar. Cuma gara-gara sms atau dengan bahasa yang lebih intelek, gara-gara short message service.
Sms malam-malam dengan bahasa alien.
"hAllowh kAkHH..4Pha KhabR nEcH..."
Sungguh saudara, mendapat sms seperti itu malam-malam, saat otak saya sedang capek-capeknya, saat saya pengen santai dan menikmati musik pengantar tidur, adalah bencana yang sangat besar. Meskipun sebenarnya bukan untuk yang pertama kalinya saya mendapat sms seperti itu, tetap saja masih sangat terasa menjengkelkan.
Setidaknya, kenapa sih harus malam-malam? Bukan hanya malam, ini tengah malam. Saat-saat otak saya dalam kondisi gelombang delta, saat alam bawah sadar saya mengalami kondisi puncak untuk memproses berbagai ingatan. Kenapa harus dicemari oleh sms alay ini. Begh..
Tapi dengan segala sifat baik yang masih tertinggal di hati nurani, saya balaslah sms ini dengan : "Baik kok dek..udah malem, belum tidur? Aku udah ngantuk nih. :) "
Sms sent. Dan saya bersiap tidur dengan asumsi si pengirim sms alien ini akan nyadar kalau saya ini ngantuk dan lagi ngga pengen diganggu.
Tapi apa yang terjadi selanjutnya... "tititit...tititit...", saya sambar hape dengan emosi dan tertulis disana :
"n66 pP4 kK kk, 4k belm n6ntk. Kkk kl4 pn6N n6BRL 4k tmN DH, kN ak bK 0rn6NY4"
Terjemahan : ngga papa kok kak, aku belum ngantuk. Kakak kalau pengen ngobrol aku temani deh, kan aku baik orangnya.
Arrrghhh!!! "Bug! bug! bug!" ( mbanting bantal ke lantai) . Sandal jepit! Ketan goreng! Musa paradiasica! Zena Mays! Oryza Sativa!! Ni anak bisa-bisanya ngomong begitu!! Terus seolah-olah gue yang mau ngobrol..astaga..kadang-kadang saya kagum juga dengan ke-tidak-sadaran-nya. Kalau ini lagi ngomongin semangat pantang menyerah, saya akan mengacungkan dua jempol sambil melakukan standing applouse.
Mencoba bersabar, saya balas smsnya : " sory ya dek...udah ngantuk banget nih. Ku temenin sms an besok aja ya.. Hari ini capek banget, serius. :D Ni aja mata sampai kayak di lem alteco."
Entah kenapa, saya punya firasat kalau si alay ini belum juga akan menyerah. Dan benar, astaga..dia sms lagi saudara.
"y Ud4h mTnya dBka dUl, CC MK kK, LL Mnum kp. 4b5 1tU stl M5k yng a6k kncn6, p5t Iln6 n6nTknY. 4k beLM n64NTk n1h, jaDi b5 nmnn k4kK 5m5 4n"
terjemahan :
"ya udah matanya dibuka dulu, cuci muka kak, lalu minum kopi. Abis itu setel musik yang agak kenceng, pasti ilang ngantuknya. Aku belum ngantuk nih, jadi bisa nemenin kakak sms an."
Bujug dah...
Pengen rasanya saya cuekin aja ni anak, silent hape, lalu tidur dengan pulas. Tapi ngga ah, saya ngga tega. Saya tahu rasanya dicuekin sama orang yang kita nggap sahabat. I know its hurts, dalem banget rasa sakitnya. Yah, mungkin si alay ini tidak menjadi sahabat yang baik untuk saya, nyebelin sih! Tapi itu ngga berarti saya harus menjadi sahabat yang buruk buat dia kan?
Seorang sahabat yang sangat saya hormati, pernah bilang gini sama saya : "ben..belajarlah menghargai niat baik sahabatmu, meskipun kamu sebenarnya ga terlalu suka dengan niat baiknya.Niat baik yang ngga dihargai bisa membuat seseorang kecewa, dan kekecewaan seperti itulah yang bikin banyak orang baik berubah. Lu ngga pengen mengubah sahabatmu sendiri jadi jahat kan?"
Absolutely right. Niat baik tetap niat baik, setidaknya teman alay saya satu ini melakukannya dengan niat baik : nemenin saya sms an malam-malam.Dan nyuekin sebuah niat baik, bukan tabiat pria sejati saudara (Hohoho...saya suka sebutan itu).
Jadi saya minum segelas air putih besar. Memanaskan otak dan men - start program penterjemah "alay text" di otak. And we go! Satu jam berlalu, melewati deretan smsnya yang panjang-panjang yang saya balas dengan dua atau tiga kata "saja" dan akhirnya..
uD4h N6ntk kk, Tdur dl y4..6 bk B6dn6 Th"
terjemahan : udah ngantuk kak, tidur dulu ya..ga baik begadang tuh
Saya sampai pengen sujud syukur.. Berakhir juga cobaan malam ini..dan saya lolos dari godaan menyakiti hati seorang teman yang berniat baik. Sungguh saudara, bertahan satu jam sms an dengan aneka huruf kreatif itu membuat saya pengen ngasih medali sama diri sendiri. Medali kesabaran dan ketabahan. Bangga juga sebenarnya.
Yah, ngga ada salahnya kan saya bangga, karena saya kali ini bisa berlaku sebagai manusia. Menghargai orang lain, biar dia alay, biar smsnya malam-malam, biar saya capek, biar saya sebenarnya jengkel. Tapi saya bangga, meski di tengah semua hal itu, saya ngga menuruti godaan hati saya untuk bersikap jahat dengan nyuekin dia. Biarpun sebenarnya jengkel banget.
Saya yakin, teman saya ini bukannya sengaja ngga nyadar isyarat saya kalau saya capek, ngantuk, dll. Tapi dia kan emang polos, masih lugu..banget. Orang polos itu derajatnya menurut saya beberapa tingkat di atas saya saudara, saya ini pinter dan cerdik saudara (ngga boleh protes! pendapat pribadi kok..). Tapi justru karena pinter dan cerdik itulah saya sering tergoda untuk bersikap munafik, lama-lama jadi munafik beneran.
Orang-orang polos itu mulia di hati saya. Mereka orang-orang pilihan Tuhan yang dipisahkan dari segala kesemrawutan dunia ini. Mereka pure, murni. Mereka marah saat marah, tertawa saat senang, bersyukur saat bersyukur, mereka ngga ngerti segala topeng yang kita pakai dalam kehidupan sehari-hari. Wajah yang tampak di muka mereka adalah wajah mereka yang sebenarnya, wajah mereka sendiri.
Dan menghadapi orang mulia seperti itu, saya ngga tega.. Menyakiti mereka, sungguh ngga sanggup hati saya untuk sengaja melakukannya. Kalau akibatnya saya jadi ngantuk sepanjang hari ,ya sudahlah.. Gapapa..
Dan pagi ini, di meja saya, ada segelas gede kopi yang di isi ulang berkali-kali sepanjang hari.
Saya, mengingat waktu saya mulai banyak nulis, tentang berbagai hal, dimulai dua tahun lalu di sebuah warnet deket kampus. Sekarang saya baru ingat lagi, kenapa awalnya saya suka menulis. Sebuah alasan awal yang terlupakan, dengan sukses selama dua tahun ini.
Kadang kita emang sengaja menyibukkan diri dan pikiran kita, agar tidak bisa mengingat sesuatu yang sebenarnya ingin kita ingat. Dan saya sangat mengerti itu.
Dulu saya mulai nulis, setelah sempat pacaran di surabaya, dengan mantan adik kelas saya. Dan sekarang mantan adik kelas saya ini, jadi lebih panjang gelarnya, udah mantan adik kelas, mantan pacar, juga hampir jadi mantan teman. Sebenarnya saya masih berusaha berteman dengan baik, hanya saja entah kenapa dia sibuk sekali. Kadang sibuk kuliah, kadang sibuk latian dance, yah, sudahlah.
Saya marah sekali saat itu, sangat marah. yah, secara baru kali itu saya sebenarnya pengen bener-bener serius setelah sekian lama main-main. Baru saat itu saya benar-benar mantap meninggalkan seseorang yang sebenarnya sangat saya sukai, tapi sayangnya tidak pantas buat saya. Saat itu saya baru hampir berhasil mencoba menyukai seseorang yang membuat saya nyaman, ya mantan saya itu. Baru saat itu saya benar-benar mencoba melihat dengan hati saya, untuk mencintai seseorang, secara dia ngga sesuai selera saya sebenarnya. Ngga cakep, tapi syukurlah lumayan manis, yah..begitulah.
Saat-saat dengan aura kemarahan itulah saya mulai nulis dulu. Saat-saat seperti itulah yang kebetulan pas sekali dengan kata aristoteles, "if u get a good love story, u will be happy. But if u get a bad one, u will be a philosopher". At last, well..that the answer for some friends question, "dolf, kok jadi agak bijak sih lu akhir-akhir ini?"
yah, teman-teman...gimana ngga jadi bijak kalau setiap saat selama sebulan yang kalian lakukan adalah merenung?
Kalau pengen jadi bijak juga. Cobalah patah hati dengan orang yang baru mulai kalian sukai. Hehe..
Dan dunia berputar, dua tahun berlalu, beberapa ingatan mulai pudar, lalu dengan konyolnya permainan Tuhan mulai dimainkan. Berapa sering sih kita harus susah payah melupakan sesuatu, mulai beralih ke pikiran lain, lalu dengan mudahnya banyak hal yang susah-susah dan menyedihkan itu muncul lagi di kehidupan kita, hanya dengan sebuah sms iseng : " nah, jadi gimana kabarmu?"
Smsnya sih ngga masalah, its just a sms bro.. masalahnya itu adalah kelanjutannya. nah, itu dia! Sms dibalas, sms lagi, sms lagi, sms lagi, telepon teleponan di mulai, dan dilanjutkan. Saat hati mulai terbuka lagi, kesibukan kami kembali hadir, mulai menjauh lagi, dan kembali sepi. sepi datang, dan semua kesedihan yang pernah hilang, kembali. Oh God, bikin cerita cinta kok sering banget yang kayak gini... Kayak ada template nya aja dah..
Ibarat batuk sudah hampir sembuh, minum es lagi. Oh saudara, segar sebentar, meradang besoknya. Dan sepertinya kali ini hati saya kembali pilek. Benar kata emak saya, kalau tahu takut ketinggian, janga mencoba manjat terlalu tinggi, kita ini manusia...cobalah lebih bijak sedikit dari kucing.
Saya jadi ingat kucing kecil saya di rumah. Seringnya manjat pohon mangga di depan sampai pucuk, lalu mengeong-ngeong minta diturunin. Kucing geblek.... Tapi ingat diri sendiri, saya juga pengen bilang geblek juga sih sebenarnya.
ah, geblek..
Kali ini saya kena batunya.
Seperti biasanya saat perut saya mules di kantor, saya menuju tempat favorit saya untuk melampiaskan beberapa hal yang mengganjal dalam hidup..halah, lebay, yang mengganjal dalam perut maksud saya. Saya menuju ke lantai dua gedung sebelah yang biasanya jam-jam segini sudah kosong dan ngga ada aktivitas apa-apa.
Lagi asyik-asyiknya jongkok nih, tiba-tiba ada suara, "kriett.." (pintu dibuka). Mampus saya!! Masalahnya bukan karena ada yang masuk ke toilet juga, tapi masalahnya toilet yang saya pakai itu adalah toilet cewek. Mampus...mana saya masih belum punya askes lagi! Gimana nanti kalau saya digebukin ibu-ibu lalu harus dirawat di rumah sakit?!
Untunglah ngga seberapa lama, entah siapa yang masuk tadi keluar lagi. "Kriett..klik!", pintu ditutup dan saya selamat. Pelajaran moral kali ini adalah : saat anda dalam bahaya, dan tidak bisa melakukan apapun, diam saja dan sabarlah. Mungkin bahaya itu akan berlalu dengan sendirinya.
Tapi walaupun saya baru selamat dari bahaya digebukin ibu-ibu, saya masih ngga ngerasa salah kok. Kan gedungnya biasanya kosong dan ga ada kegiatan apa-apa disana, lagian juga toilet cowok di sebelah sedang rusak. Lagian kan manusiawi sekali, kalau saya yang orang baik-baik ini, yang biasanya jarang ngelanggar aturan, sekali-sekali pengen nakal.
Lha nakal kan sebenarnya salah satu kebutuhan dasar manusia juga. Semua orang, biar se alim apapun menurut saya sih pasti pernah terlintas ide-ide untuk berbuat sedikit "menyimpang" dari peraturan, sedikit "jahat", sedikit "usil". Di dunia anak-anak "gaol" sih ini disebut pikiran iseng.
Mungkin sih pikiran iseng, adalah salah satu warisan genetik dari nenek moyang kita. Jaman dulu kan ga ada aturan tuh ya, apalagi yang masa-masa purba, nenek moyang kita hidup dengan bebasnya. Kayak di film-film tuh, yang namanya manusia purba kan suka-suka aja hidupnya, mau ga pake baju kek, mau mukulin orang tanpa alasan kek, mau nari-nari ga jelas kek. Benar-benar pola hidup, "suka-suka gue".
Tapi jaman berkembang, manusia mulai semakin matang pemikirannya dengan berbagai konsep filsafat, moral, etika, agama. Kehidupan semakin mengalami "enlightment", keteraturan, ketertiban, kebijaksanaan, ilmu pengetahuan, norma-norma, yang semuanya baik..tentunya..
Tapi ada sisi manusia yang terpenjara dengan semua kemajuan peradaban itu, sisi purbanya. Sisi diri yang hidup bebas dan "semau gue aja", tinggalan nenek moyang di masa purba itulah yang kadang-kadang mengetuk-ngetuk hati, mendobrak-dobrak jiwa, atau hanya muncul dalam getaran halus di pikiran, "pengen iseng...pengen iseng...pengen iseng....".
Makanya ada orang yang jadi preman, soalnya mungkin gen purbanya jauh lebih kuat daripada nilai-nilai moral yang dipegangnya.
Tapi jangan salah bung, yang saya bilang pikiran iseng itu beda jauh sama pikiran jahat. Iseng itu ngga jahat. Orang-orang alim yang ngga punya pikiran jahat juga masih bisa punya pikiran iseng, hanya saja mereka mencari-cari cara untuk berbuat iseng yang ngga menyalahi moral, etika, agama, dan semua pegangan yang dimilikinya.
Makanya banyak cerita tentang sufi, yang iseng banget kan? Soalnya namanya aja sufi, salah satu cara memahami Tuhan lewat cara kreatif. Iseng itu dekat dengan kreatifitas, kreatifitas dekat dengan kejeniusan, kejeniusan dekat dengan kegilaan. Yah, gitu dah..
Dan dalam diri saya, dobrakan-dobrakan itu muncul setiap kali saya kebelet ke toilet. Setiap saat saya liat toilet cewek yang nganggur, ga ada yang makai di gedung sebelah, muncul di pikiran, "hihihi...gimana ya klo boker disana aja?? kan ga ada orang juga nih..". Waduh, sisi purba saya anarkis juga isengnya ternyata.
Yah, begitulah..dengan meng-kambing hitamkan gen nenek moyang lah saya bisa bilang kalau "ga salah juga lah..kan iseng, lagian ga ada yang makai tu toilet(biasanya)". Saya ngga ngerasa salah, tapi kapok. Daripada lain kali digebukin ibu-ibu kaget beneran.
Yah meskipun iseng ngga salah, tapi sebaiknya jangan berbuat iseng yang membahayakan nyawa kan.. Kalau nggebuknya pakai sepatu sih gapapa, tapi kalau pakai linggis? Nyawa saya bisa terancam juga kan..
jadi ingat iklan yang, "mbak..punya linggis? kalau nama punya kan...". Ah, sudahlah.
Lain kali, sebaiknya saya cari kesempatan iseng yang lebih aman. Tentunya yang ngga terlalu menyalahi moral dan yang palig penting, hati nurani saya.
Gimana lagi? Iseng itu kebutuhan hidup juga kan... Udah bawaan gen sih!
Kenapa sih lu ngga ikutan nulis?
"ah, tulisan gue jelek..gue ga pinter nulis."
Itu tuh jawaban yang paling sering saya terima, tiap kali menanyakan pertanyaan yang sama. Gue ga pinter- nulis. Lho, emang nulis itu harus pinter yak?
Kagak saudara, saya juga ga ngerasa pinter tapi saya nulis terus. Saya emang ngga tambah pinter setelah nulis, tapi saya merasa tambah cerdas. Lho, beda lho pinter ama cerdas tuh..
Gini nih bedanya..
Manusia kan punya batas kemampuan otak buat mengingat sama menganalisis, bayangin aja kita abis baca ensiklopedi empat ratus halaman, setelah dua minggu berapa persen yang masih bisa kita ingat? Dikit kan? Kalau saya sih biasanya lupa semuanya.
Tapi masalahnya, apa kita benar-benar lupa tuh? Ngga... sebenarnya kita masih ingat. Kayak hard disk komputer dah, saat sudah full berisi data, lalu kita format, sim salabim datanya ilang. Bener-bener hilang kah? Oh, tidak...sebenarnya datanya cuma ditindis.
Kan data di komputer itu wujudnya susunan bilangan biner ( 0 dan 1 ) yang dikonversi ke dalam huruf, angka, gambar, suara, perintah, bahasa pemrograman, proses, perintah mesin, dll. Nah, proses format itu sebenarnya cuma menindis angka bilangan-bilangan biner itu ke susunan semula saat disk masih kosong. Ngerti?
eh, ngga ngerti? duh, gimana yak..
Pokoknya otak manusia itu menurut penelitian mirip dengan hardisk. Bedanya, dia bisa menyimpan informasi dalam ukuran yang besarnya jauh lebih besar dari harddisk yang paling canggih sekalipun saat ini. Dan saat kita menerima sebuah informasi, lalu kita lupa, itu sebenarnya bukan berarti data yang sudah kita dapat itu hilang.
Ngga hilang, cuma disimpan dalam bentuk lain. Dalam bentuk apa? Ya dalam bentuk memori alam bawah sadar.
Makanya pernah ngga saat lagi ngobrol santai sama seseorang, tiba-tiba aja
keluar tuh omongan cerdas yang ngga kita duga-duga sebelumnya? Sampai teman kita kaget, "kok tumben lu cerdas sih?". Lalu kita dengan coolnya bilang, "emang sebenernya gue cerdas kok, ngga nyadar ya?" (Padahal kaget juga sebenernya, tumben bisa pinter)
Itu namanya kondisi trance.
Pernah dengar cerita ngga kalau hitler itu sebenarnya pemalu kalau ngomong tatap muka dengan seseorang, tapi waktu dia pidato di depan ribuan orang entah kenapa bisa langsung berubah wujud jadi seseorang yang membara, berapi-api. Seperti teman saya devita, anak medan, dia itu sebelum manggung nyanyi pasti keringat dingin, tapi saat udah di panggung langsung berubah, dia tiba-tiba lupa sama kondisi sekitar dan nyanyi dengan pede-nya.
Itu trance, saat-saat otak bawah sadar mengambil alih kemampuan kita. Semakin lama, dan semakin sering kemampuan bawah sadar itu muncul, dia akan merembes ke alam sadar otak kita. Makanya semakin lama dan semakin sering jam terbang si devita, teman saya itu pasti rasa nervousnya hilang.
Nulis itu juga bisa bikin trance saudara. Kadang-kadang saya juga suka ngga sadar saking asiknya nulis, eh..udah tiga halaman! Dan saya dengan jujur mengakui kalau kadang-kadang tulisan saya bisa kelihatan lebih cerdas dari saya yang sebenarnya. Soalnya banyak alam bawah sadar saya yang menyelinap diam-diam masuk ke tulisan saya waktu saya sedang ngetik.
Alam bawah sadar kita, yang bahkan sudah mulai menyimpan dan mengolah informasi sebelum kita lahir, sebenarnya menyimpan potensi yang parah banget kerennya saudara. Makanya sayang kalau cuma dikeluarin saat kepepet, atau kadang-kadang. Daripada kadang-kadang jadi cerdas kan mending jadi cerdas beneran aja sesering mungkin kan?
Makanya itu saya nulis mulu kerjanya, ini dalam rangka mencerdaskan otak saudara. Dengan nulis maka alam bawah sadar saya terpaksa keluar, semakin sering keluar, siapa tahu lama-lama cerdasnya merembes ke otak sadar saya? Ya to..
"halah, lu sering nulis juga masih bego!", kata teman saya.
Sirik banget sih! Kan sekarang udah cerdasan dikit daripada dulu!!
-mau cerdas? nulislah.
Kenapa blog ini dinamai sandal jepit? dan kenapa pakai embel-embel ijo?
Itu semua ada filosofinya lho saudara, bukan sekedar njeplak aja bikin judul nih.
Yang pertama kenapa pakai judul sandal jepit?
Nah, kita semua tahu kalau sandal jepit itu ada di seluruh lapisan masyarakat, mulai dari tukang becak sampai direktur semua suka pakai sandal jepit, semua tahu sandal jepit, semua harusnya punya sandal jepit. sandal jepit adalah salah satu lambang kesatuan bangsa lho saudara. Kalau ada istilah, "we are in the same world, in the same sky..so we all are brothers and sisters". Maka dengan filosofi sandal ini, kita bisa berkata, "berbeda suku bangsa, berbeda agama, berbeda budaya, namun bersendal jepit semua.". Oh, indahnya..
Sandal jepit juga adalah lambang sebuah esensi. Kita semua tahu kalau sebenarnya esensi dari semua alas kaki adalah sama, yaitu untuk melindungi kaki. Bener apa bener?
Tapi masing-masing alas kaki punya gengsi yang berbeda, misalnya sepatu buat kerja, high hells buat pesta, lalu ada kawin silang sepatu sama sendal, yang namanya sepatu sendal. sepatu sandal ini biasanya buat main sama jalan-jalan. Kasta paling bawah ya adalah sandal jepit. Sendal jepit selalu dianggap rendah, sampai-sampai kalau kita jalan-jalan ke mall pakai sandal jepit pasti akan diliatin dengan ilfeel sama orang.
"udah ngga keren, pakai sandal jepit lagi..bikin mata katarak aja nih!"
Padahal kalau kita mau renungkan, sebenarnya dengan objektif dan tanpa membawa-bawa harga diri dan gengsi, sandal jepit kan fungsinya sama aja sama sandal mahal dan sepatu-sepatu itu. Malah ada beberapa orang yang malah lebih suka pakai sandal jepit kemana-mana. Lebih nyaman aja rasanya. Termasuk saya.
Saya kalau kemana-mana selain di kantor dan ke gereja, pasti pakai sandal jepit swallow warna hijau. Ke mall juga begitu, biar diliatin orang saya ngga peduli, bukankah yang dibilang rasa ngga nyaman itu sebenarnya muncul karena kita ngga nyaman dengan diri sendiri. Saya ngga ngerasa pakai sandal jepit ke mall adalah hal yang salah, jadi saya nyantai aja biar diliatin orang juga.
Intinya (meskipun ga nyambung dengan penjelasan di atas) saya menulis di blog ini untuk semua orang, bukan buat golongan tertentu seperti yang disebut anak "gaol", anak "alay", anak gedongan, anak "kampung", birokrat, dll..dll..dll..
mau lu gaul kek, mau lu ga gaul kek, mau lu gedongan kek, ga gedongan kek, alay kek, ga alay kek, dan kek kek yang lainnya, selamat datang di blog saya. Disini, kita semua sama.
Kalo masalah kenapa hijau? Yah, itu sih cuma karena ijo adalah warna kesukaan saya aja.
Selamat datang di blog saya, "sandal-jepit-ijo.blogspot.com".
Sebenarnya ini blog ketiga saya, setelah dua blog sebelumnya hilang dengan mengenaskan karena saya lagi-lagi lupa password. Yah, beberapa rangkaian huruf saja bisa membuat tulisan yang udah seabrek jadi hilang, memang mengenaskan sekali saudara.
Akhirnya dengan sedikit keberuntungan, ketemulah saya dengan teman baru saya, indri. Si indri ini anak medan, kuliah semester capek di USU jurusan anthropologi sosial yang juga penulis blog, merangkap tukang desain. Dan dengan alasan kesetiakawanan, saya minta si indri untuk men-desain blog saya yang baru.
Dan, ciluk..ba!! Jadilah blog ini, "sandal-jepit-ijo.blogspot.com".
Sekaligus ini penjelasan buat siapa saja yang mampir disini, dan berkomentar dalam hati "apaan nih blog, desainnya cewek banget...padahal penulisnya cowok, huek...(muntah). Sok imut..". Nah, jelas desainnya cewek banget, kan yang bikin desain emang cewek. Dan saya bukan sok imut saudara, saya emang imut. Udah imut, baik hati, ngga sombong, suka membantu ibu lagi, kurang apa coba?
Apa? kurang ajar?
Yah, beberapa orang ada juga sih yang bilang kayak gitu. Tapi seperti kata aristoteles: " There was never a genius without a tincture of madness", ngga ada orang jenius tanpa sentuhan kegilaan". Dan itu artinya mereka yang bilang saya kurang ajar secara tidak langsung mengatakan kalau saya ini mendekati jenius saudara.
Nah, kurang apa coba, udah imut, baik hati, ngga sombong, mendekati jenius lagi.
Akhir kata, selamat datang di blog saya.



